Bagian yang paling sulit dari sebuah kegiatan adalah konsistensi, semua orang bisa membuat karya pertamanya tapi berapa orang yang bisa konsisten untuk membuat 1000 karya, hehe
Mungkin izinkan saya memulai essai saya di postingan ini,
19 Jul 2026, 15.1020 menit membacaIhsan Mokhsen
Saya tidak tahu apakah tulisan ini nantinya menjadi tulisan pertama dari seribu tulisan atau justru hanya menjadi tulisan pertama yang kemudian saya lupakan begitu saja. Semoga saja tidak, karena sebenarnya itulah masalah saya dan mungkin masalah banyak orang juga. Kita sangat semangat ketika memulai sesuatu, membeli alatnya, membuat tempatnya, menyiapkan tampilannya, bahkan mengumumkan kepada orang lain bahwa kita sedang membuat sesuatu. Namun setelah beberapa hari semangat itu biasanya mulai turun.
Membuat karya pertama memang susah, tetapi ternyata membuat karya kedua, ketiga, kesepuluh hingga keseribu jauh lebih susah. Pada karya pertama kita masih ditemani oleh rasa penasaran. Pada karya berikutnya, kita harus mulai berteman dengan rasa bosan, rasa malas, kesibukan, dan pikiran bahwa tulisan kita mungkin tidak terlalu penting untuk dibaca orang lain.
Saya sendiri membuat bagian Essays di website saya bukan karena saya merasa sebagai seorang penulis, bukan juga karena saya merasa mempunyai pemikiran yang paling penting. Saya hanya ingin mempunyai sebuah tempat untuk menyimpan sesuatu yang benar-benar saya pikirkan. Berbeda dengan stories yang mungkin lebih ringan, cepat dan spontan, di bagian ini saya ingin sedikit lebih lama duduk bersama pikiran saya sendiri.
Mungkin tulisan ini belum sempurna, bahkan saya yakin masih banyak kalimat yang berantakan. Tapi mungkin konsistensi memang tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang sempurna. Kadang kita hanya perlu berani menerbitkan karya pertama, lalu kembali lagi untuk membuat karya berikutnya.
Akhir-akhir ini karena sering dumb scrolling saya merasa flat, memang kadang dari scrolling itu saya mendapat beberapa informasi tapi sayang, sudah saya ingat informasi itu tidak langusng saya ekseksi, misal tutor di web saya dll jadi saya merasa ada hal yang harus saya ubah,
Saya merasa dumb scrolling itu sedikit aneh. Ketika melakukannya, kita merasa sedang sibuk. Jari kita terus bergerak, mata terus melihat sesuatu, otak menerima banyak gambar, suara dan tulisan. Kadang kita menemukan tutorial yang menarik, berita terbaru, rekomendasi buku, potongan ceramah, tips mengelola server, ide desain web, hingga video orang yang sedang menjelaskan cara menjadi lebih produktif.
Masalahnya setelah layar dimatikan, saya sering tidak benar-benar melakukan apa-apa dari informasi itu.
Saya pernah melihat tutorial untuk memperbaiki bagian tertentu di website saya. Saya menyimpannya, mungkin juga memberikan tanda suka, lalu melanjutkan ke video berikutnya. Beberapa menit kemudian saya menemukan tutorial lain, kemudian informasi lain lagi, dan akhirnya tutorial pertama tadi hilang begitu saja di antara ratusan hal yang saya lihat.
Kita seperti orang yang terus memasukkan barang ke dalam gudang, tetapi tidak pernah membuka kardusnya. Gudangnya semakin penuh, tetapi tidak ada satu pun barang yang benar-benar digunakan.
Saya tidak mengatakan bahwa scrolling itu sepenuhnya buruk. Banyak informasi yang saya dapatkan dari internet dan bahkan beberapa pekerjaan saya terbantu karena melihat tutorial singkat. Namun mungkin masalahnya bukan pada informasi yang kita lihat, melainkan tidak adanya jarak antara satu informasi dan informasi berikutnya. Sebelum sempat berpikir, kita sudah diberi sesuatu yang baru. Sebelum sempat mencatat, sudah muncul video lain. Sebelum sempat mengeksekusi, kita kembali menggeser layar.
Akhirnya kita mengetahui sedikit tentang banyak hal, tetapi tidak menyelesaikan satu hal pun.
Mungkin itu juga yang membuat saya merasa flat. Bukan sedih, bukan juga bahagia, hanya seperti tidak mempunyai tenaga yang cukup untuk memulai sesuatu. Padahal sepanjang hari saya merasa sudah melihat banyak hal.
Dulu ketika di pesantren saya sangat suka membaca buku yang tentu saja itu karena saya tidak ada hp, dan kita diizinkan membca buku, dan buku saya bukan buuku buku berat melainkan buku-buku novel seperti andrea hirata, tereliye dll
Ketika saya ingat kembali masa-masa itu, mungkin salah satu alasan saya bisa membaca dengan tenang bukan karena saya dahulu mempunyai tingkat fokus yang luar biasa. Alasannya lebih sederhana: tidak ada terlalu banyak pilihan.
Tidak ada notifikasi yang tiba-tiba muncul ketika saya sedang membaca. Tidak ada video berdurasi tiga puluh detik yang menawarkan kesenangan lain. Tidak ada keinginan untuk memeriksa siapa yang mengirim pesan atau melihat sesuatu yang sedang ramai dibicarakan orang.
Kalau bukunya sedang berada di tangan, ya buku itulah yang dibaca.
Pada waktu itu saya juga tidak terlalu memikirkan apakah buku yang saya baca akan membuat saya terlihat pintar atau tidak. Saya membaca karena ceritanya seru. Saya membaca Andrea Hirata karena saya ingin mengikuti perjalanan tokoh-tokohnya. Saya membaca Tere Liye karena saya penasaran dengan apa yang akan terjadi di halaman berikutnya.
Buku-buku tersebut mungkin bukan buku filsafat yang setiap halamannya perlu dibaca tiga kali. Namun dari novel saya belajar bahwa membaca tidak harus selalu menjadi kegiatan yang berat. Membaca boleh menjadi hiburan, tetapi hiburan yang meminta kita untuk tetap tinggal lebih lama.
Saat membaca novel, kita tidak bisa langsung menggeser ke bagian paling menarik seperti ketika melihat video pendek. Kita harus berjalan bersama tokohnya. Kita harus mengenal mereka, memahami keputusan mereka, kadang kesal kepada mereka dan kadang merasa sedih atas sesuatu yang bahkan tidak benar-benar terjadi di dunia nyata.
Anehnya, perasaan terhadap tokoh fiksi itu kadang terasa sangat nyata.
Nah hari ini saya sudah mulai kembali membaca buku/novel, yaitu dengan judul
The Kite Runner karya Khaled Hosseini
The Kite Runner adalah novel pertama Khaled Hosseini. Ia mulai menulis novel tersebut pada Maret 2001 ketika masih bekerja sebagai dokter, kemudian buku itu diterbitkan oleh Riverhead Books pada 2003. Dalam situs resminya, novel ini digambarkan sebagai cerita tentang keluarga, cinta dan persahabatan dengan sejarah Afghanistan selama beberapa dekade sebagai latarnya.
Saya awalnya tidak mengetahui banyak hal tentang Khaled Hosseini. Setelah mencari tahu, ternyata ia lahir di Kabul, Afghanistan, kemudian keluarganya pindah dan akhirnya memperoleh suaka di Amerika Serikat. Mungkin itu juga yang membuat gambaran Afghanistan dalam novelnya tidak terasa seperti sebuah tempat yang hanya dibaca dari buku sejarah. Afghanistan di dalam novel ini terasa seperti rumah yang pernah dikenal dengan sangat dekat, kemudian berubah perlahan-lahan akibat perang, kekuasaan dan waktu.
Namun saya juga tidak ingin berpura-pura memahami seluruh sejarah Afghanistan hanya karena sudah membaca satu novel, hehe. Novel tetaplah sebuah cerita dari sudut pandang tertentu. Tetapi setidaknya dari cerita ini saya mulai melihat Afghanistan bukan hanya sebagai nama negara yang sering muncul dalam berita tentang perang.
Di sana pernah ada anak-anak yang berlomba layang-layang, keluarga yang makan bersama, pasar yang ramai, rumah-rumah dengan halaman luas dan orang-orang yang mempunyai kehidupan biasa. Sama seperti tempat lain, sebelum berbagai konflik membuat kehidupan biasa itu menjadi sesuatu yang mahal.
Setelah membaca saya merasakan kembali serunya membaca buku, dimanapun saya bawa novel itu, novel dengan tebal 490 halaman ternyata sangat tidak berasa dan karena membaca saya akhirnya mengurangi ‘sedikit;’ dums scroll saya
Kata “sedikit” memang sengaja saya beri tanda, karena saya belum benar-benar terbebas juga, hehe. Saya masih membuka media sosial, masih kadang terlalu lama melihat video yang sebenarnya tidak perlu, dan masih beberapa kali mengambil hp secara otomatis tanpa tujuan yang jelas.
Namun sekarang setidaknya ada sebuah pilihan lain.
Ketika menunggu, saya bisa membuka novel. Ketika mempunyai waktu kosong, saya bisa membaca beberapa halaman. Kadang hanya lima halaman, kadang bisa puluhan halaman karena penasaran dengan kelanjutan ceritanya.
Yang menarik, ketika membaca buku setebal 490 halaman, saya tidak merasa sedang menerima 490 halaman sekaligus. Saya hanya membaca satu halaman, kemudian satu halaman lagi. Tanpa sadar jumlahnya menjadi puluhan dan akhirnya ratusan halaman.
Mungkin konsistensi memang bekerja seperti itu. Seribu karya terdengar sangat banyak, tetapi karya kedua hanya membutuhkan satu karya lagi setelah karya pertama. Buku 490 halaman terlihat tebal ketika masih tertutup, tetapi saat dibaca kita hanya perlu menghadapi halaman yang sedang terbuka.
Ada rasa yang berbeda ketika membaca novel dibandingkan dengan melihat potongan informasi di media sosial. Setelah membaca beberapa halaman, saya masih bisa mengingat suasananya. Saya bisa membayangkan halaman rumah Amir, melihat layang-layang di udara, membayangkan jalan-jalan Kabul dan merasakan ketegangan antara Amir dengan orang-orang di sekitarnya.
Sementara setelah melihat puluhan video pendek, kadang saya bahkan tidak ingat video pertama yang saya lihat.
Mungkin membaca tidak memberikan kesenangan secepat scrolling, tetapi ia meninggalkan sesuatu yang lebih lama.
Kembali ke novel ini, amir adalah karakter utama, saya mencoba menggunakan agent ai untuk membuat mindmapnya,
Saya membuat mindmap karena karakter dalam novel ini cukup banyak dan hubungan di antara mereka ternyata tidak sesederhana yang saya pikirkan pada awal cerita. Ada Amir, Hassan, Baba, Ali, Rahim Khan, Soraya, Sohrab, Assef dan beberapa karakter lain yang masuk pada bagian-bagian tertentu.
Menggunakan AI untuk membuat mindmap cukup membantu saya melihat siapa berhubungan dengan siapa. Namun AI tentu tidak menggantikan pengalaman membaca novelnya. Mindmap hanya memberi tahu bahwa Amir berteman dengan Hassan, tetapi tidak bisa sepenuhnya menjelaskan mengapa hubungan mereka terasa begitu hangat sekaligus menyakitkan.
Sebuah garis yang menghubungkan dua nama tidak bisa memperlihatkan rasa iri, kesetiaan, ketakutan, pengkhianatan dan penyesalan yang tumbuh di antara mereka.
Mungkin di situlah perbedaan antara informasi dengan pengalaman. AI dapat memberikan ringkasan dalam beberapa detik. Kita bisa mengetahui siapa yang hidup, siapa yang meninggal dan bagaimana cerita berakhir. Namun mengetahui akhir cerita ternyata tidak sama dengan berjalan perlahan menuju akhir itu.
Saat membaca, kita diberi waktu untuk menyukai seorang tokoh. Setelah menyukainya, barulah penulis membuat sesuatu terjadi kepadanya. Karena itulah rasa sedihnya menjadi berbeda.
Nah film ini bercerita tentang bagaimana persahabatan anatara amir dan hasan dengan setting di afghanistan awalnya saya berpikir novel ini akan boring karena tebal ternyata seru juga, memang saya merasa bagian yang seru itu ketika amir dan hasan waktu kecil mereka menjadi pengejar layang layang,
Saya sadar di atas saya menulis “film”, padahal pada bagian ini saya masih membicarakan novelnya, hehe. Mungkin karena setelah selesai membaca saya juga mencari tahu tentang filmnya dan dua bentuk cerita ini mulai tercampur di kepala saya.
Bagian masa kecil Amir dan Hassan memang menjadi bagian yang paling saya sukai. Ada sesuatu yang sederhana dalam hubungan mereka ketika masih menjadi anak-anak. Mereka membaca cerita bersama, bermain, berjalan-jalan dan mengikuti perlombaan layang-layang.
Hassan juga memiliki satu kalimat yang terus berulang dalam cerita, sebuah janji bahwa ia akan melakukan sesuatu untuk Amir bahkan jika harus melakukannya seribu kali. Kalimat itu awalnya terdengar seperti ucapan seorang sahabat biasa. Namun setelah semua yang terjadi, kalimat tersebut menjadi semakin berat.
Hassan adalah anak Ali, pembantu yang tinggal bersama Baba dan Amir. Tetapi hubungan mereka sebenarnya jauh lebih dekat daripada hubungan antara majikan dengan pembantu. Hassan dan Amir tumbuh bersama, menyusu dari ibu yang sama meskipun bukan saudara yang diketahui pada awal cerita, bermain di tempat yang sama dan mempunyai banyak kenangan bersama.
Namun mereka tidak pernah benar-benar berada pada posisi yang setara.
Amir berasal dari keluarga Pashtun yang berada, sedangkan Hassan adalah seorang Hazara. Perbedaan tersebut bukan hanya menjadi informasi tentang latar belakang karakter, tetapi perlahan-lahan memengaruhi cara orang memperlakukan Hassan. Hassan bisa menjadi sahabat Amir ketika mereka bermain, tetapi ketika keadaan menjadi sulit, perbedaan kelas dan identitas itu seperti muncul kembali.
Di sinilah saya mulai merasa bahwa novel ini bukan hanya tentang dua anak yang mengejar layang-layang. Layang-layang itu seperti membawa cerita menuju sebuah kejadian yang kemudian mengubah seluruh kehidupan mereka.
Perlombaan layang-layang menjadi salah satu bagian paling hidup dalam novel. Kita bisa merasakan keinginan Amir untuk menang, bukan sekadar karena ia menyukai perlombaan tersebut, melainkan karena ia ingin memperoleh pengakuan dari Baba. Amir seperti percaya bahwa kemenangan itu akan menjadi bukti bahwa dirinya layak disayangi ayahnya.
Hassan kemudian berlari mengejar layang-layang terakhir yang jatuh. Dari sanalah kegembiraan berubah menjadi sesuatu yang sangat gelap.
Konflik disini adalah ketika amir merasa bahwa baba (ayahnya) oebih menyayangi hasan yang adalah anak dari pembantunya sehingga ada beberapa kejadian yang benar-benara saya meraasa bahwa novel ini bukan buat anak-anak, hmm, tapi itulah,
Amir sebenarnya memiliki hampir semua hal yang tidak dimiliki Hassan. Ia tinggal di rumah besar, bisa bersekolah, dapat membaca dan mempunyai posisi sosial yang lebih tinggi. Namun Amir tetap merasa kekurangan karena satu hal yang paling ia inginkan adalah perhatian Baba.
Baba adalah sosok yang kuat, dihormati dan seperti selalu yakin dengan dirinya sendiri. Sementara Amir lebih suka membaca dan menulis cerita. Amir merasa bahwa dirinya tidak seperti anak laki-laki yang diharapkan Baba. Setiap kali Baba memuji keberanian atau kemampuan Hassan, Amir merasakannya seperti sebuah pengurangan terhadap dirinya.
Rasa iri itu menurut saya sangat manusiawi, tetapi yang membuatnya berbahaya adalah apa yang dilakukan seseorang setelah merasa iri.
Amir bukan tokoh utama yang selalu baik. Mungkin itu juga yang membuat ceritanya menarik. Kita dipaksa mengikuti kehidupan seseorang yang pernah melakukan sesuatu yang pengecut, kemudian hidup bertahun-tahun dengan ingatan atas tindakannya sendiri.
Pada saat Hassan mengalami kekerasan, Amir melihatnya. Ia mengetahui bahwa sahabatnya membutuhkan pertolongan, tetapi ia tidak berbuat apa-apa. Ia memilih diam dan membiarkan kejadian tersebut berlangsung karena takut, sekaligus karena layang-layang yang dibawa Hassan adalah sesuatu yang ingin ia persembahkan kepada Baba.
Di bagian ini saya sempat berhenti membaca. Bukan hanya karena kejadiannya berat, tetapi karena sulit menerima bahwa Amir yang selama ini bermain bersama Hassan bisa mengambil keputusan seperti itu.
Namun mungkin manusia memang tidak selalu menjadi dirinya yang terbaik ketika berada dalam ketakutan. Kita bisa mempunyai banyak nilai yang bagus di kepala, tetapi semuanya baru benar-benar diuji ketika kita harus kehilangan sesuatu untuk mempertahankan nilai tersebut.
Amir gagal pada ujian itu.
Setelah kejadian tersebut, Hassan masih menunjukkan kesetiaan. Justru Amir yang tidak sanggup melihat Hassan karena setiap kali melihatnya, ia seperti melihat kembali kepengecutannya sendiri.
Kadang orang yang bersalah tidak menjauh karena membenci orang yang disakitinya. Ia menjauh karena keberadaan orang tersebut mengingatkan dirinya pada sesuatu yang ingin ia lupakan.
Hingga pada akhirnya amir melakukan beberapa hal yang akhirnya membuat baba dan hasan menjauh dan pada akhirnyaamir merasa bersalah kepada hasan, dan kembali mencari hasan, namun naas hasan sudah meninggal …….
Amir memasukkan uang dan jam tangan ke tempat tidur Hassan, kemudian menuduhnya mencuri. Hassan sebenarnya mengetahui apa yang sedang dilakukan Amir. Namun lagi-lagi ia memilih melindungi Amir dengan mengakui sesuatu yang tidak pernah dilakukannya.
Baba memaafkan Hassan, tetapi Ali memutuskan untuk pergi membawa anaknya. Pada titik itu Amir sebenarnya memperoleh apa yang ia inginkan: Hassan tidak lagi berada di dekatnya. Namun ternyata menghilangkan seseorang dari pandangan tidak membuat kesalahan ikut menghilang.
Kesalahan itu ikut bersama Amir ketika ia dan Baba meninggalkan Afghanistan. Kesalahan itu ikut masuk ke dalam kehidupan baru mereka di Amerika. Ia ada ketika Amir tumbuh dewasa, jatuh cinta kepada Soraya, menikah dan menjadi seorang penulis.
Dari luar, kehidupan Amir terus bergerak. Tetapi ada bagian dari dirinya yang seperti tetap tinggal di sebuah gang di Kabul bersama Hassan.
Kalau saya mau sedikit merapikan ingatan saya sendiri, Amir tidak langsung kembali ke Afghanistan hanya untuk mencari Hassan. Ia dipanggil oleh Rahim Khan yang sedang berada di Pakistan. Dari Rahim Khan, Amir mengetahui lebih banyak tentang kehidupan Hassan setelah mereka berpisah, termasuk kenyataan mengenai hubungan Hassan dengan Baba yang selama ini disembunyikan.
Amir kemudian mengetahui bahwa Hassan dan istrinya telah meninggal setelah dibunuh oleh Taliban. Namun mereka meninggalkan seorang anak bernama Sohrab. Kesempatan Amir untuk menebus kesalahannya akhirnya bukan dengan menyelamatkan Hassan, karena untuk itu ia sudah terlambat, melainkan dengan mencari dan menyelamatkan anak Hassan.
Menurut saya hal itu membuat penebusannya terasa lebih menyakitkan. Kita sering membayangkan bahwa meminta maaf dapat menyelesaikan semuanya. Namun bagaimana jika orang yang harus menerima permintaan maaf kita sudah tidak ada?
Amir tidak bisa kembali ke masa kecil. Ia tidak bisa masuk lagi ke gang itu dan memilih tindakan yang berbeda. Ia hanya bisa menentukan apa yang akan dilakukan dengan kesempatan yang masih tersisa.
Perjalanannya mencari Sohrab mempertemukannya kembali dengan Afghanistan yang sangat berbeda dari tempat masa kecilnya. Rumah-rumah, jalan-jalan dan kehidupan masyarakat telah berubah oleh perang dan kekuasaan Taliban. Amir yang sudah lama tinggal di Amerika seperti menjadi orang asing di tempat kelahirannya sendiri.
Di sana, masa lalu tidak hanya kembali dalam bentuk ingatan. Masa lalu berdiri di hadapannya dalam bentuk orang-orang yang pernah ia kenal dan kesalahan yang belum selesai.
Mungkin kalian yang membaca ini andai ingin membaca kalau jarak kita dekat bisa saya pinjamkan untuk dibaca kalau tidak silahkan ke toko buku untuk membeli bukunya
Saya rasa buku memang sebaiknya tidak hanya diam di rak setelah selesai dibaca. Kalau sebuah buku bisa berpindah dari satu orang ke orang lain, mungkin ceritanya juga akan mempunyai kehidupan yang lebih panjang.
Apalagi novel ini cukup tebal. Sayang juga kalau setelah selesai dibaca hanya menjadi pajangan, walaupun jujur sampulnya memang cukup bagus untuk dipajang, hehe.
Tetapi saya perlu memberi sedikit peringatan bahwa novel ini mempunyai beberapa bagian yang berat. Ada kekerasan, perang, diskriminasi, kehilangan, percobaan bunuh diri dan kekerasan seksual. Jadi mungkin bukan bacaan yang cocok untuk semua umur atau semua keadaan.
Namun justru karena bagian-bagian itu, perjalanan penebusan Amir tidak terasa seperti perjalanan yang ringan. Ia tidak hanya perlu pulang dan mengucapkan maaf. Ia harus masuk kembali ke tempat yang paling ia takuti, bertemu dengan akibat dari masa lalu dan menerima bahwa memperbaiki kesalahan kadang mempunyai harga yang mahal.
Mungkin yang ingin saya sampaikan disini, jujur teman-tyeman dumb scroll membuat otak kita terasa lambat, kita menelan banyak sekali informasi dengan cepat dan sepengalaman saya membiuat saya menjadi tidak fokus entah ketika bekerja ataupun ketika sedang berbicara dengan orang lain,
Saya menulis bagian ini berdasarkan apa yang saya rasakan sendiri, bukan untuk mendiagnosis siapa pun. Tetapi ternyata kekhawatiran terhadap kebiasaan terus-menerus mengonsumsi informasi buruk juga dibahas oleh berbagai sumber kesehatan.
Harvard Health menjelaskan bahwa terus membaca berita yang menimbulkan tekanan dapat berdampak pada kesehatan dan kesejahteraan seseorang. Sejumlah kajian juga menghubungkan doomscrolling dan penggunaan media digital secara berlebihan dengan beban kognitif, kelelahan emosional, kecemasan serta kesulitan melepaskan perhatian dari layar. Hubungan ini tentu tidak berarti setiap orang yang sering scrolling pasti mengalami hal yang sama, tetapi setidaknya apa yang saya rasakan bukan sesuatu yang sepenuhnya aneh.
Saya pernah berada dalam percakapan sambil memikirkan hal lain. Orang sedang berbicara, tetapi sebagian perhatian saya seperti ingin kembali memeriksa hp. Kadang tidak ada notifikasi apa pun. Hanya ada dorongan kecil untuk membuka layar, melihat beberapa hal, lalu tanpa sadar beberapa menit sudah lewat.
Hal seperti ini juga terjadi ketika bekerja. Saya membuka laptop untuk mengerjakan satu tugas, kemudian memeriksa sesuatu, membuka media sosial, membaca berita dan akhirnya lupa tugas pertama tadi hendak dilanjutkan dari mana.
Mungkin masalah terbesar dari dumb scroll bukan hanya waktu yang hilang. Masalahnya adalah perhatian kita terpotong menjadi bagian-bagian yang terlalu kecil. Kita mulai kesulitan tinggal cukup lama bersama satu pekerjaan, satu percakapan atau satu pikiran.
Membaca novel bagi saya seperti latihan kecil untuk kembali tinggal.
Saya harus membaca kalimat dari awal sampai akhir. Saya harus mengingat apa yang terjadi beberapa halaman sebelumnya. Saya harus mengikuti cerita meskipun pada bagian tertentu tidak ada kejadian besar. Tidak ada tombol untuk mengganti cerita setiap tiga puluh detik.
Dalam proses itu, perlahan-lahan saya merasa perhatian saya mulai mempunyai tempat untuk pulang.
Saya belum tahu apakah kebiasaan membaca ini akan benar-benar bertahan. Bisa saja beberapa hari lagi saya kembali malas. Tetapi setidaknya sekarang saya mulai menyadari bahwa fokus tidak datang hanya karena kita berniat untuk fokus. Fokus mungkin perlu dilatih dengan memilih kegiatan yang meminta kita bertahan sedikit lebih lama.
Dan setelah pencarian saya di inetrnet ternyata novel ini sudah pernah difilmkan dengan judul yang sama ….
Film The Kite Runner dirilis pada 2007. Film ini disutradarai oleh Marc Forster, sedangkan naskah adaptasinya ditulis oleh David Benioff. Khalid Abdalla memerankan Amir dewasa, Zekeria Ebrahimi menjadi Amir kecil, Ahmad Khan Mahmoodzada memerankan Hassan, Homayoun Ershadi menjadi Baba dan Shaun Toub memerankan Rahim Khan. Film ini berdurasi sekitar 128 menit dan didistribusikan oleh Paramount.
Hal yang cukup menarik, meskipun sebagian besar ceritanya berlatar di Afghanistan, sebagian besar adegan yang menggambarkan Kabul justru tidak dibuat di Afghanistan. Produksi dilakukan terutama di Kashgar, wilayah Xinjiang, China. Beberapa lokasi lain yang digunakan adalah Tashkurgan, Pegunungan Pamir dan jalan antara Kashgar dengan Tashkurgan. Lokasi-lokasi itu dipilih karena mempunyai bentuk kota lama, jalan, pegunungan dan arsitektur yang dianggap dapat menyerupai Afghanistan dalam periode cerita tersebut. Kondisi keamanan juga membuat proses pengambilan gambar langsung di Afghanistan saat itu terlalu berisiko.
Salah satu tempat yang digunakan adalah kedai teh tua di dekat Masjid Id Kah di Kashgar. Adegan Baba dan Rahim Khan menyaksikan perlombaan layang-layang direkam di sekitar tempat tersebut. Jadi Kabul yang kita lihat dalam film sebenarnya sebagian merupakan sebuah kota di China yang sedang berperan menjadi Kabul.
Film ini menggunakan beberapa bahasa. Banyak percakapannya memakai bahasa Dari, kemudian ada bagian berbahasa Inggris serta beberapa percakapan dalam bahasa Pashto dan Urdu. Menurut saya keputusan mempertahankan bahasa tersebut membuat filmnya mempunyai suasana yang lebih dekat dengan latar cerita, walaupun tentu saja penonton perlu membaca teks terjemahan.
Musik filmnya dikerjakan oleh Alberto Iglesias. Musik tersebut kemudian memperoleh nominasi Academy Award untuk kategori musik orisinal pada Academy Awards 2008. Jadi meskipun filmnya tidak menjadi film Hollywood yang paling sering dibicarakan sekarang, sisi musikalnya pernah memperoleh pengakuan yang cukup tinggi.
Proses perilisan film ini ternyata juga tidak sederhana. Studio sempat menunda perilisan dan mengatur agar beberapa pemeran anak meninggalkan Afghanistan karena ada kekhawatiran mereka akan menghadapi ancaman setelah film ditayangkan, terutama akibat adegan kekerasan terhadap Hassan dan ketegangan etnis yang terdapat di dalam cerita. Pemerintah Afghanistan kemudian melarang impor dan pemutaran film tersebut karena menilai isinya dapat memicu kekerasan.
Jujur bagian ini membuat saya memikirkan hal lain. Ketika kita membaca sebuah novel, tokoh-tokohnya berada di dalam imajinasi. Namun ketika cerita itu difilmkan, ada anak-anak sungguhan yang harus memerankan adegan berat dan kemudian kembali ke kehidupan nyata mereka.
Bagi penonton, film mungkin selesai ketika tulisan kredit muncul. Bagi para pemerannya, dampaknya ternyata bisa terus berjalan jauh setelah kamera berhenti.
Saya sendiri tetap merasa bahwa novel memberikan ruang yang lebih luas untuk memahami Amir. Di dalam buku, kita berada sangat dekat dengan pikiran dan rasa bersalahnya. Kita mengetahui alasan-alasan yang ia buat untuk membenarkan dirinya, rasa takutnya dan bagaimana ingatan tentang Hassan terus mengikutinya.
Film harus memadatkan ratusan halaman menjadi sekitar dua jam. Akibatnya tentu ada bagian yang dipercepat, dipotong atau disederhanakan. Namun film juga mempunyai kelebihan lain. Kita dapat melihat perlombaan layang-layang bergerak di udara, mendengar bahasa para tokohnya, melihat keadaan kota dan merasakan perubahan Afghanistan melalui gambar serta suara.
Jadi mungkin novel dan film tidak harus dipertandingkan. Novel memberi kita ruang untuk tinggal di dalam pikiran Amir, sedangkan film memberikan wajah, suara dan bentuk pada dunia yang sebelumnya hanya kita bayangkan.
Saya belum tahu apakah setelah menonton filmnya saya akan mempunyai kesan yang sama seperti ketika membaca bukunya. Kadang adaptasi membuat kita kecewa karena tokoh yang selama ini hidup di kepala ternyata terlihat berbeda. Tetapi mungkin itu juga serunya melihat bagaimana orang lain menerjemahkan sebuah cerita ke dalam gambar.
Mungin satu pesan yang saya ambil bagaimana penebusan kesalaahan masa lalu selalu akan membekas, pilihannya 2 selesaikan atau biarkan dia mati di dalam hati terkubur nantinya dengan pusara kita, yang diambil amir adalah pilihan pertama dan mungkin itu juga yang akan saya pegang
Namun menyelesaikan masa lalu bukan berarti kita selalu bisa membuat semuanya kembali seperti semula.
Ada kesalahan yang bisa diperbaiki dengan meminta maaf. Ada yang membutuhkan waktu, tindakan dan keberanian. Ada juga kesalahan yang tidak mungkin benar-benar diperbaiki karena orangnya sudah pergi atau akibatnya terlalu besar untuk dihapus.
Dalam keadaan seperti itu, mungkin penebusan bukan tentang menghilangkan kesalahan. Penebusan adalah keputusan untuk tidak lagi melarikan diri darinya.
Amir tidak dapat menyelamatkan Hassan. Ia tidak dapat mengubah apa yang terjadi di gang itu. Tetapi ia masih bisa mengambil keputusan ketika berhadapan dengan Sohrab. Untuk pertama kalinya, ia memilih masuk ke dalam bahaya dan menanggung sesuatu bagi orang lain.
Mungkin keberanian bukan berarti seseorang tidak pernah menjadi pengecut. Keberanian juga bisa berarti seorang pengecut yang akhirnya memutuskan bahwa ia tidak mau terus menjadi orang yang sama.
Saya sendiri tentu tidak mempunyai masa lalu seperti Amir. Tetapi semua orang mungkin mempunyai beberapa hal yang masih membekas. Ada perkataan yang seharusnya tidak diucapkan, orang yang pernah kita kecewakan, kesempatan yang kita abaikan atau keputusan yang kita tahu sebenarnya salah.
Kita bisa mencoba menguburnya dengan pekerjaan, hiburan, scrolling dan kesibukan lain. Namun sesuatu yang dikubur belum tentu benar-benar mati.
Kadang ia muncul kembali ketika malam sedang sepi. Kadang ketika kita membaca cerita orang lain, kita justru teringat kepada kesalahan sendiri.
Mungkin itu salah satu alasan novel bisa terasa dekat meskipun tempat dan kehidupan tokohnya sangat jauh dari kita. Cerita Amir berlangsung di Afghanistan dan Amerika, tetapi rasa bersalahnya tidak membutuhkan kewarganegaraan tertentu untuk dapat dimengerti.
Pada akhirnya tulisan ini awalnya hanya ingin membahas kebiasaan membaca, tetapi ternyata sampai juga kepada penebusan kesalahan, hehe.
Namun mungkin semuanya tetap mempunyai hubungan.
Dumb scroll membuat saya terus bergerak tanpa benar-benar pergi ke mana-mana. Membaca membuat saya berhenti, mengikuti sebuah cerita dan akhirnya memikirkan kehidupan sendiri. Dari Amir saya belajar bahwa seseorang bisa berlari sangat jauh dari masa lalu, tetapi belum tentu bisa benar-benar meninggalkannya.
Dari buku setebal 490 halaman saya juga belajar bahwa sesuatu yang panjang tidak selalu harus diselesaikan sekaligus. Kita hanya perlu membuka halaman pertama, kemudian melanjutkan ke halaman berikutnya.
Begitu juga dengan tulisan ini.
Saya tidak tahu apakah akan sampai pada seribu karya. Untuk sekarang, setidaknya karya pertama sudah dimulai. Mungkin besok saya akan menulis lagi, mungkin minggu depan, dan semoga saja tidak berhenti hanya pada kalimat “saya ingin konsisten”.
Karena pada akhirnya konsistensi tidak dapat dibuktikan melalui niat. Ia hanya bisa terlihat dari sesuatu yang terus kita kerjakan, bahkan setelah rasa semangat pertama sudah tidak ada.
Kupang 19 juli 2026 - @ kamar tercinta
---
## Referensi
1. Situs resmi Khaled Hosseini – *The Kite Runner*
https://khaledhosseini.com/books/the-kite-runner/
3. Informasi resmi film dari Paramount Pictures
https://www.paramountpictures.com/movies/the-kite-runner
4. Data film dan kredit produksi dari American Film Institute
https://catalog.afi.com/Film/64350-THE-KITERUNNER
5. Daftar pemeran dan kru film
https://www.rottentomatoes.com/m/kite_runner/cast-and-crew
6. Lokasi pengambilan gambar film
https://www.imdb.com/title/tt0419887/locations/
7. Lokasi pembuatan film di Kashgar
https://news.cgtn.com/news/2019-08-19/Tracing-the-filming-location-of-The-Kite-Runner-in-Kashgar-JhFWDbYawE/index.html
8. Nominasi Academy Awards untuk musik film *The Kite Runner*
https://www.oscars.org/oscars/ceremonies/2008/A
9. Reuters – perlindungan terhadap para pemeran anak
https://www.reuters.com/article/lifestyle/studio-acts-to-shield-child-stars-of-kite-runner-idUSN04338048/
10. Reuters – pelarangan film di Afghanistan
https://www.reuters.com/article/lifestyle/afghanistan-bans-kite-runner-film-idUSSP61692/
11. Harvard Health – dampak doomscrolling
https://www.health.harvard.edu/mind-and-mood/doomscrolling-dangers
12. Kajian mengenai doomscrolling dan penggunaan media digital
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10079169/